PERSATUAN BANGSA MEMBANGUN NEGERI
   Yogyakarta kota perjuangan semasa revolusi sedang berduka. Hampir atau bahkan lebih dari 30.000 penghuninya menderita karena gempa yang dahsyat, enam ribu atau lebih penduduk kota yang indah itu meninggal dunia, ratusan ribu rumah ambruk rata dengan tanah, ibu, anak-anak dan orang tua menderita tidur beratapkan langit, basah karena hujan, dan sakit karena makan tidak teratur atau trauma yang tidak ada ujungnya.

Yogyakarta kota perjuangan semasa revolusi sedang berduka. Hampir atau bahkan lebih dari 30.000 penghuninya menderita karena gempa yang dahsyat, enam ribu atau lebih penduduk kota yang indah itu meninggal dunia, ratusan ribu rumah ambruk rata dengan tanah, ibu, anak-anak dan orang tua menderita tidur beratapkan langit, basah karena hujan, dan sakit karena makan tidak teratur atau trauma yang tidak ada ujungnya. Penderitaan yang sama hampir enampuluh tahun lalu yang menimpa orang tua dan kakek mereka harus diulang oleh anak cucu bangsa. Penderitaan para sesepuh enampuluh tahun lalu menghasilkan persatuan dan kesatuan yang erat karena RI yang kita cintai kembali kepangkuan ibu pertiwi. Kita berharap bahwa penderitaan sekarang ini, yang dibarengi dengan tekad bulat untuk menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa akan membuahkan persatuan dan kesatuan yang lebih kokoh.

Gempa yang dahsyat tersebut memporak porandakan DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan utamanya hati kita yang gundah karena melihat bangsa ini tercabik-cabik karena kepentingan sesaat yang berdalihkan demokrasi, keadilan, kebersamaan, dan hak azasi manusia, yang ternyata menjadi panas dan membuat sebagian dari kita bangsa yang bersaudara berubah bringas, saling curiga, bukan beramai-ramai mencari persamaan, tetapi justru membesar-besarkan perbedaan. Menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk tidak sabar, menghujat dan mencoba merubah budaya sopan dan santun menjadi budaya liar saling rebut, saling bakar dan saling membenci. Teori kebersamaan dan gotong royong diubah menjadi ajang konflik dan usaha mengalahkan lawan, yang sebenarnya saudara sekandung yang selama puluhan tahun berjuang mempersatukan bangsa untuk bersama-sama mengatasi masalah yang tidak kunjung selesai.

Dengan berbagai bencana sebagai peringatan bertubi-tubi dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, kiranya bangsa ini segera menyelesaikan periode tanggap darurat dan bekerja keras menyatukan diri melakukan konsolidasi dan membangun Yogyakarta, Jawa Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, Nias, dan banyak wilayah dan penduduk tertinggal lain, menjadikan seluruh bangsa Indonesia yang tertinggal dari bangsa tetangganya bangkit kembali. Indonesia bangkit karena ingin tetap bersatu dan maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), yang selama beberapa hari ini bersama sukarelawan BK3S, K3S, dan organisasi sosial lainnya, yang antara lain dipimpin langsung oleh Sekjen DNIKS, Ibu Wahyu Dilt, membuka Posko-posko dan ikut terjun membagikan kebutuhan sehari-hari apa adanya untuk mengurangi penderitaan saudara-saudara kita di pedesaan, mulai mempersiapkan diri ikut membantu rehabilitasi jangka panjang yang lebih menentukan. Untuk itu bersama dengan 3.000 petugas lapangan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Yogyakarta yang dikoordinasikan langsung oleh Ibu Dra. Sulcha Prihasti, MM, sedang mengadakan inventarisasi para pengusaha kecil dan mikro yang dimasa lalu ikut serta dalam upaya pemberdayaan keluarga dengan usaha ekonomi produktif. Para petugas di daerah yang tertimpa bencana sangat berat umumnya memperoleh kesulitan karena ternyata alamat lama tempat tinggal mereka kosong dan yang tinggal tumpukan pecahan genteng dan malang melintangnya kayu sisa bangunan yang porak poranda tidak ada penghuninya. Tetangga yang diharapkan bisa memberi petunjuk kemana mereka mengungsi, sama kosongnya, sehingga sukar mendapatkan alamat dan mengetahui nasib penghuninya.

Petugas yang rajin mencari jejak mulai mengitari rumah sakit dan melihat rentetan nama mereka yang meninggal dunia dan menderita sakit dalam usaha mencari nasabah keluarga kecil yang nasibnya akan direhabilitasi atau dibantu agar bisa bangkit kembali. Petugas-petugas itu merupakan bagian awal dari upaya DNIKS dan mitra kerjanya untuk mengembangkan program jangka panjang menolong rakyat di tempat tinggalnya dan bersama saudara-saudaranya bangkit kembali melalui wadah Posyandu Mandiri yang disepakati bakal menjadi wahana pembangunan bangsa.

Sementara itu dalam rangka memperingan penderitaan mereka yang belum juga bangkit dalam masa gawat darurat sekarang ini, Ibu Titiek Soeharto, mewakili Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, telah mendapat petunjuk langsung dari Ketua Yayasan, Bapak HM Soeharto, yang segera setelah kembali dari RSPP untuk berobat di rumah minggu lalu, memutuskan untuk memberi bantuan kepada masyarakat DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bantuan dana sebesar Rp. 1.000.000.000,-, terbagi sebesar Rp. 750.000.000,- untuk masyarakat DI Yogyakarta dan sebesar Rp. 250.000.000,- untuk masyarakat Klaten di Jawa Tengah.

Perhatian yang tidak putus-putusnya dari Ketua Yayasan tersebut merupakan pencerminan betapa sesungguhnya Yayasan-yayasan yang dibentuk oleh beliau selalu diarahkan untuk kemanusiaan. Bukan untuk kroni-kroni seperti selama ini diplintir oleh mereka yang tidak suka melihat gerakan kemanusiaan yang ternyata sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. Bukan itu saja, Ketua Yayasan juga memberi petunjuk, biarpun hanya dengan tanda-tanda sederhana karena kesehatan yang sangat terganggu, merangsang Yayasan-yayasan lain mulai mengembangkan rencana darurat untuk membantu masyarakat yang menderita di Yogya dan Jawa Tengah sesuai dengan misi dan tujuan masing-masing.

Petunjuk sederhana dan sangat mengharukan tersebut akan segera ditindak lanjuti dan kita berharap dalam waktu singkat akan dilaporkan kepada Presiden dan Wakil Presiden yang secara khusus menaruh perhatian sangat tinggi terhadap rehabilitasi penduduk yang menderita di kedua daerah itu agar dukungan Yayasan-yayasan tersebut dapat dikoordinasikan dengan baik dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk membantu bangkitnya kembali rakyat kurang beruntung di kedua daerah tersebut.

DNIKS merasa sangat bangga mendengar laporan dari Pengurus BK3S dan K3S daerah, yang ternyata ajakan untuk membantu secara langsung yang dikeluarkan baru-baru ini mendapat perhatian yang memuaskan. Banyak organisasi-organisasi sosial kecil, yang barangkali tidak pernah muncul di media TV atau memberi wawancara di surat kabar, telah dengan bangga merasa ikut meringankan beban dan penderitaan saudara-saudara kita secara langsung di kedua daerah itu. Porak poranda yang menimpa Yogyakarta, Bantul dan Klaten, seperti terjadi enampuluh tahun lalu selama masa perjuangan, Insya Allah menyegarkan persatuan dan kesatuan yang sejuk dan simpatik, menghasilkan kepedulian sesama anak bangsa, uluran tangan yang segera dan sanggup menjamin masa depan yang sejahtera. (Prof. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS).

 
  Berita Sebelumnya  
  :: 24 Mahasiwa UGM asal Aceh: “Terima Kasih Yayasan Damandiri Atas Bantuan SPP-nya”  
  :: Yayasan Damandiri Peduli Mahasiswa Universitas Brawijaya Asal Aceh  
  :: Mahasiswa Universitas Merdeka Malang asal Aceh mendapat bantuan SPP dari Yayasan Damandiri  
  :: Yayasan Damandiri bantu SPP Mahasiswa Universitas Jenderal Sudirman asal Aceh  
  :: 56 Mahasiswa Unmuh Yogakarta terima bantuan SPP dari Yayasan Damandiri  
  :: Yayasan Damandiri bantu SPP Mahasiswa Asal Aceh di Universitas Jember  
  :: Yayasan Damandiri kembali bantu Mahasiswa asal Aceh, kini giliran Mahasiwa Universitas Muhamadiyah Malang  
  :: Mahasiswa Undip asal Aceh mendapat bantuan SPP dari Yayasan Damandiri  
  :: 8 Tahun Yayasan Damandiri Membantu Memotivasi Masyarakat Mewujudkan Kesejahteraan  
  :: PEDULI MAHASISWA NANGGROE ACEH DARUSSALAM  
Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | yamp | Indra

Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Dana Gotong Royong Kemanusiaan: redaksi@gotongroyong.or.id
Copyright © 2003 gotongroyong.or.id
design by Visionnet